Apa tandanya kedewasaan iman dalam Kristus ...? Ada beberapa tanda kedewasaan iman dalam Kristus, yang dimungkinkan oleh karunia Roh Kudus. Pertama ialah jika kita dapat memusatkan perhatian kepada Kristus, dan bukan kepada diri sendiri. Secara praktis kita melihat contoh yang nyata pada anak-anak kecil yang sampai umur tertentu menginginkan dirinya terus menjadi pusat perhatian. Namun semakin besar, sifatnya (seharusnya) berubah, dan dapat memperhatikan orang lain. Dalam ibadah dan doa-doa kita, kita-pun dapat melihat gejala serupa.

Jika kita belum dewasa dalam iman, doa-doa kita didominasi oleh doa permohonan yang berpusat pada kebuTUHAN kita, seperti, minta rejeki, kesehatan, dll. Namun jika kita terus bertumbuh, maka doa kita berkembang menjadi ucapan syukur dan pujian penyembahan kepada TUHAN. Kita mulai dapat mengasihi Sang Pemberi berkat dan bukannya mengasihi berkat-berkat-Nya. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memohon berkat pada TUHAN, tetapi seharusnya kita memusatkan perhatian kepada TUHAN terlebih dahulu, sebab yang lain akan diberikan kepada kita kemudian. Dengan ini kita memenuhi kehendak TUHAN yang berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

Kesediaan kita untuk memberikan diri kita untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia, dengan kata lain kita mau melayani daripada dilayani. Bukankah hal ini juga sangat nyata dalam kehidupan seorang anak? Anak kecil minta dilayani, tetapi yang sudah besar dapat melayani anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Jadi, dalam kegiatan di Gereja dan masyarakat misalnya, kita tidak menuntut orang lain untuk memperhatikan, melayani, dan menghormati kita; melainkan kita terdorong untuk membantu dan melayani orang lain. Karena itu, selayaknya kita tidak berkomentar, “Aku tidak senang ke gereja Katolik, karena di gereja aku tidak mendapat perhatian …”

Walaupun tentu sebagai umat seharusnya kita saling memperhatikan satu sama lain, namun jangan sampai kita lupa bahwa tujuan utama kita beribadah di gereja adalah untuk bersyukur kepada TUHAN dan bersekutu dengan-Nya. Baru kemudian, langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kulakukan agar dapat turut meningkatkan keakraban umat. Melayani TUHAN juga berarti mau menjalankan tugas mewartakan Injil (lih. Mat 28:19-20). Hal ini dapat kita lakukan dengan perkataan, tetapi terlebih lagi dengan perbuatan. Sudah menjadi misi Kristus untuk menyelamatkan semua manusia, maka jika kita sungguh mengasihi Kristus kita akan turut mengambil bagian dalam misi-Nya tersebut, yang juga menjadi misi Gereja. Dengan perkataan lain, kita tidak hanya menjadi pengikut Kristus, tetapi menjadi murid Kristus.

Tidak mudah bertengkar dengan sesama, terutama dengan sesama umat. Rasul Paulus menunjukkan hal ini dengan begitu jelas dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Timotius diutus oleh Rasul Paulus untuk membacakan pesannya kepada jemaat di sana, yang berisi nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2:1-11), untuk menghindari segala bentuk perselisihan. Secara khusus ia menyebut nama dua orang wanita yang bertengkar, Euodia dan Sintikhe (Fil 4:2) dan menasihati supaya mereka berhenti berselisih dan menjadi sehati sepikir dalam TUHAN. Jika kita memiliki pengalaman berselisih dengan sesama umat di gereja, bayangkanlah jika nama kita yang disebutkan di sana!

Bertumbuh di dalam iman jika kita mau dengan hati lapang memikul salib yang TUHAN izinkan terjadi di dalam kehidupan kita, dengan harapan akan kebangkitan bersama Kristus. Hal ini bertentangan dengan keinginan dunia. Banyak orang cenderung menyukai ajaran teori ‘kemakmuran’ jika mengikuti Yesus, daripada harus berjuang memikul salib bersama Yesus, untuk dapat bangkit bersama Dia. Pendeknya, ingin mencapai kebangkitan tanpa salib. Namun, melalui Kitab Suci, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa ajaran TUHAN bukanlah demikian.

Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Artinya, dengan rahmat TUHAN, kita harus berjuang untuk meninggalkan dosa dan segala keakuan kita, serta mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk dapat mencapai kebahagiaan bersama-Nya (lih. Rom 6:5-11; 1 Pet 4:13). Bersama Kristus dan semua anggota Gereja-Nya, kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah, (lih. 1 Kor 3:9) dengan mempersembahkan segala penderitaan kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus, agar mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang kita kasihi, dan untuk seluruh dunia.

Satu tanda kedewasaan iman yang tak boleh diabaikan adalah mau mengikuti seluruh ajaran dan kehendak TUHAN dan tidak memilih-milih dan menyesuaikan dengan kehendak kita sendiri. Artinya, jangan sampai ajaran yang mudah kita terima, tetapi ajaran yang sukar dan membutuhkan pengorbanan, kita tolak, seperti ajaran mengampuni orang yang menyakitkan hati, mengasihi dan mendoakan orang yang membenci kita, larangan korupsi, dst. Jika kita bertindak demikian, kita belum sungguh dewasa dalam iman.

Memang, tanda-tanda pertumbuhan dan kedewasaan iman merupakan perjuangan bagi setiap kita. Kita tidak perlu berkecil hati jika belum secara sempurna mempraktekkannya. Yang terpenting adalah kita terus berjuang supaya semakin hari kita semakin dapat menjadikan kelima tanda ini bagian dari hidup kita.

Untuk dapat menghidupi iman sehingga bertumbuh, berkembang dan berbuah tentunya tidak terlepas dari sedikit banyaknya kekayaan iman yang kita miliki (?)

Contoh kasus : Seorang Katolik meninggalkan Gereja Katolik karena merasa lebih bisa bertumbuh di gereja lain, atau mereka merasa lebih bersemangat dan bersuka cita ketika menghadiri ibadat di non-Katolik, yang lain merasa bahwa Misa itu membosankan, homili / khotbah romo monoton, tidak menyentuh dan membuat ngantuk, koor yang biasa saja dan lagunya itu-itu saja dan tidak menyentuh hati, serta banyak alasan lainnya.

Dalam kasus seperti itu dan juga kelesuan umat dalam menggereja baik di Lingkungan, Wilayah dan Paroki, salah satu sebab utama adalah minimnya "kekayaan iman" Katolik itu sendiri. Misalnya, sejauh mana kita tahu dan memahami semua "perlengkapan liturgi" dalam tata-laksana Perayaan Ekaristi (?) ..., mulai dari air suci di ambang pintu masuk gereja sampai dengan berkat perutusan. Ada begitu banyak "kekayaan iman" yang hanya ada di dalam Gereja Katolik dan tidak ada di gereja lain.

Contoh :

Betapa banyak jenis dan bentuk "kekayaan iman" Katolik [ sumber ] yang sangat menguntungkan bagi kita ...? Jadi, untuk apa kita mencari sesuatu diluar rumah kita sendiri, padahal kita sendiri belum atau mungkin tidak mencari tahu kekayaan yang ada di dalam rumah kita [...] Di bawah ini koleksi "kekayaan iman" dalam bentuk digital yang akrab disebut Google Play, aplikasi untuk perangkat smartphone. Semoga memberi manfaat [...]


Catholic Bible
Hile

Kopendium Katekismus
Decima Vita Maxima

Katekismus Gereja Katolik
Wiktoria Goroch

Doa Katolik
Decima Vita Maxima

Pengakuan Dosa
Decima Vita Maxima

Doa Jalan Salib
Decima Vita Maxima

Doa Rosario
TW Studio

Doa Novena
Decima Vita Maxima

Puji Syukur
TW Studio

Madah Bakti
Seraphina Shine Dev

eKatolik
Dominicus Bernardus

Daily Fresh Juice
Ocky Kristanto

Katekese Liturgi
Decima Vita Maxima

Kumpulan Renungan Kristen
ENJA INC

Renungan Harian
Konsep Mobile

"Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya! (Mzm 117) Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia." (Kol 3:23)

Ad Maiorem Dei Gloriam