Surat Gembala Hari Pangan Sedunia
Uskup Keuskupan Agung Semarang 2015

(Dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2015)

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama” adalah tema Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dibuat oleh KWI untuk tahun 2015. Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Sejarah peringatan HPS bermula dari konferensi “Food and Agriculturale Organization” (FAO) ke-20, bulan Nopember 1976 di Roma. Salah satu keputusan hasil konferensi tersebut adalah dicetuskannya resolusi No.179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia). Resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, termasuk Indonesia, dan menetapkan mulai tahun 1981, semua Negara anggota FAO, memperingati HPS setiap tanggal 16 Oktober bertepatan dengan tanggal berdirinya FAO. HPS merupakan momentum ketika masyarakat dunia diajak merenungkan dan memperhatikan kembali keadaan pangan dunia.

Tujuan peringatan HPS untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik di tingkat global, regional, nasional maupun lokal. Peringatan HPS mendorong masyarakat dunia untuk memperhatikan produksi pangan pertanian, meningkatkan partisipasi masyarakat pedesaan dengan melibatkan perempuan, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kelaparan dunia,memperkuat solidaritas lokal, nasional dan internasional dalam perjuangan melawan kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskinan serta meningkatkan pembangunan pangan berkelanjutan melalui dunia pertanian yang lestari. Upaya memberi perhatian pada pengembangan perkebunan, peternakan dan kelautan memerlukan usaha nyata untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan. Dengan tujuan mulia itu, kita semakin disadarkan bahwa HPS merupakan gerakan kemanusiaan, kesejahteraan, kepedulian dan solidaritas pangan. Sejak tahun 1982 Gereja Katolik Indonesia ikut berperan aktif dalam peringatan HPS. Gereja diutus membangun gerakan iman yang membentuk perilaku manusia untuk menghargai pangan dan kehidupan.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat dalam gerakan HPS ini. Gerakan HPS menjadi semakin nyata ketika pada tanggal 16 Oktober 1990, disponsori oleh Konferensi Uskup-Uskup Asia (FABC) diadakan seminar kaum tani se-Asia di Ganjuran. Dalam seminar tersebut dicetuskan Deklarasi Ganjuran sekaligus ditandai lahirnya wadah kaum tani dengan nama Paguyuban Tani Hari Pangan Sedunia.

Selanjutnya berkembang menjadi Paguyuban Tani-Nelayan HPS. Amanat pokok Deklarasi Ganjuran mengajak masyarakat untuk membangun pertanian dan pedesaan lestari yang: bersahabat dengan alam (ecologically sound), murah secara ekonomis sehingga tergapai (economically feasible), sesuai dengan/berakar dalamkebudayaan setempat (culturally adapted/rooted) dan berkeadilan sosial (socially just).

Injil hari ini menunjukkan pencarian makna kehidupan dan apa yang perlu untuk hidup yang kekal . Agar layak menjadi murid-murid Yesus Kristus kita berani bersikap atas harta kekayaan yang kita miliki dan tidak diperbudak olehnya. Dalam konteks gerakan HPS, ungkapan ini dapat kita maknai dengan berani menerapkan pola hidup secara baru, yaitu pola produksi dan konsumsi lestari, menentang konsumerisme dan memperjuangkan pertanian organik sebagai pola pertanian masa kini dan masa depan.

Peringatan HPS tahun 2015 menjadi istimewa karena bertepatan dengan peringatan 25 tahun Deklarasi Ganjuran. Menjadi sebuah peristiwa penting untuk mawas diri bagaimana kita sebagai umat beriman peduli terhadap kedaulatan dan solidaritas pangan serta keutuhan ciptaan. Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si – Terpujilah Engkau Tuhan” memperteguh usaha kita untuk terus melestarikan lingkungan sebagai rumah bersama yang harus dijaga dan dirawat. Kebakaran hutan di lereng gunung Merapi-Merbabu serta kabut asap yang terjadi di tanah air kita akibat pembakaran lahan, pencemaran air dan tanah dari zat-zat polutan, posisi lemah para petani berhadapan dengan mekanisme pasar bukanlah hal yang jauh dari keadaan harian kita untuk kita sikapi.

Sejalan dengan Ensiklik Paus Fransiskus tentang Pertobatan Ekologis, Komisi PSE KWI telah merancang program HPS dengan tema besar “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” (2013-2015). Tema ini dijabarkan ke dalam tema tahunan. Tahun 2013 “Mencintai dan Merawat Bumi, tahun 2014 “Pangan Sehat Keluarga Sehat”, tahun 2015 “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama.”

Tahun 2004 KWI menulis Nota Pastoral mengenai Habitus Baru dengan menunjuk habitus lamanya adalah pengrusakanlingkungan hidup. Nota Pastoral KWI tahun 2013 tentang “Keterlibatan Gereja dalam melestarikan Keutuhan Ciptaan”. Gerak langkah merawat dan memelihara alam ciptaan, juga telah dirumuskan dalam empat fokus Pastoral ARDAS KAS 2011-2015 dengan menetapkan kesadaran dan upaya Umat Allah KAS untuk pemeliharaan keutuhan ciptaan.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Kita bersyukur karena di Keuskupan kita muncul banyak gerakan untuk mencintai bumi dan lingkungan hidup. Formatio Iman Berjenjang dengan sadar memasukkan kecintaan terhadap lingkungan hidup yang ditanamkan dalam diri anak-anak baik yang dijalankan melalui pendidikan formal di sekolah ataupun gerakan dalam keluarga, komunitas maupun di paroki.Beberapa contoh dapat disebut, misalnya pendidikan cinta lingkungan yang diterapkandi SD Kalirejo Samigaluh Kulon Progo melalui pertanian organik, SD Prontakan di Sumber dengan sekolah sawah, gerakan sanggar anak di Kampung Sodong Paroki Bedono, pemeliharaan kambing „bergulir bagi anak-anak bersama keluarga, dan masih banyak lagi gerakan lain yang menjadi secercah harapan bagi keutuhan ciptaan.

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2015 Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KWI menerbitkan film pendek, berjudul "Kembali ke Alam dan Bersyukur kepada-Nya” :

Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan jaksana dapat merawat dan memelihara “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”. Dari bumilah sumber pangan bagi semua orang dan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tersedia berlimpah-limpah. Diperlukan pertobatan rohani pada diri kita sebagai bentuk pertobatan ekologis yang ditindaklanjuti dengan pertobatan bersama (komunitas) hingga membawa perubahan pada penghormatan dan pemeliharaan alam ciptaan.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana. Aneka gerakan dan kepedulian yang telah ikembangkan melalui bentuk solidaritas dan belarasa, kekuatan jejaring dengan komunitas lain serta Pemerintah, akan menjadi tindakan yang bermakna agar pencemaran lingkungan dikurangi dan pelestarian lingkungan hidup diperjuangkan.

Kita yakin, melalui gerakan sederhana dan jejaring yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kearifan lokal akan semakin tumbuh dan berkembang. Saya berdoa bagi para petani yang dengan gigih menyediakan pangan bagi kita semua. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudari-saudara semua.
 
Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, pada pesta Kelahiran SP. Maria, 8 September 2015


 Mgr. Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Mgr. Pujasumarta menyatakan bersyukur karena di keuskupan setempat yang meliputi DIY dan sebagian Jateng itu muncul banyak gerakan umat untuk mencintai bumi dan lingkungan hidup.

Beliau menjelaskan "formatio iman berjenjang" dengan sadar memasukkan kecintaan terhadap lingkungan hidup yang ditanamkan dalam diri anak-anak, baik melalui pendidikan formal maupun gerakan dalam keluarga, komunitas, dan paroki.

Mgr. Johannes Pujasumarta : "Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana."

[ BEBAS DIBAGIKAN ]