Lima tahun berselang, melalui SAGKI tahun 2005, mereka menegaskan kembali panggilan dan perutusannya sebagai sebuah gerakan menuju keadaban publik baru. Untuk tahun 2010, para uskup Indonesia memilih tema ‘Dia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup Dalam Kelimpahan‘ (bdk Yoh 10:10). Melalui tema ini, umat Katolik diajak untuk menyadari panggilannya sebagai ‘Gereja yang diutus untuk mewartakan kabar gembira Yesus Kristus, sekaligus merayakan iman akan Yesus Kristus yang mereka alami setiap hari dalam hidup bermasyarakat di Indonesia. Pribadi Yesus Kristus (hidup dan karya-Nya) akan menjadi sentra perayaan SAGKI 2010. Dalam konteks ini, perayaan SAGKI 2010 juga dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari Kongres Misi Asia I yang diselenggarakan di Chiangmai-Thailand, tahun 2006.

Pada kesempatan itu, utusan umat Katolik dari negara-negara Asia berkumpul dan merayakan imannya secara bersama dalam sebuah komunitas bangsa-bangsa Asia melalui sharing dan perayaan, melalui pertunjukan seni dan pentas budaya. Kongres misi di Thailand ini menjadi inspirasi umat Katolik Indonesia untuk merayakan pengalaman iman dan mengemban perutusannya sebagai Gereja Katolik di Indonesia.

Apa yang khas dari SAGKI 2010 ? SAGKI tahun 2010 merupakan sebuah perayaan (iman) dan kesempatan untuk berbagi (sharing). Para peserta SAGKI akan merayakan dan mensharingkan pengalaman imannya tentang pribadi Yesus Kristus dalam konteks pengalaman sebagai orang Indonesia. Lewat perayaan iman ini, kita akan melihat sejauh mana Kristus sudah diterima dan mempengaruhi hidup orang Katolik Indonesia. Kekayaan yang diperoleh dari hajatan ini diharapkan dapat menggerakkan semangat berevangelisasi umat Katolik Indonesia (revitalisasi semangat bermisi).

Suasana kekeluargaan dan penuh keakraban akan menjadi warna yang mendominasi proses bertutur dan mendengarkan kisah-kisah pribadi yang orisinal dari setiap peserta. Dengan demikian, gambaran tentang Wajah Yesus bukan didasarkan pada hasil riset para ahli atau ulasan para cendekiawan tetapi dari pengalaman dan kesaksian iman setiap orang Katolik.

Narasi (menuturkan dan mendengarkan kisah) akan dipergunakan sebagai metode dalam pengungkapan iman. Setiap peserta yang mewakili umat Katolik keuskupan akan mendapat kesempatan untuk menuturkan kisah (sharing iman) selama hari-hari SAGKI dalam kelompok-kelompok (narasi kelompok). Sementara yang lain akan diberi kesempatan untuk bercerita di depan publik (narasi publik) – para peserta SAGKI. Narasi-narasi itulah yang akan dirangkum, direfleksi, dan didalami dalam terang Kitab Suci dan Ajaran Gereja yang pada akhirnya memberikan petunjuk (indikator) kepada kita untuk mengetahui sejauh mana kita mengalami Kristus dalam pergulatan hidup setiap hari.

Keberhasilan narasi amat bergantung pada peranserta aktif para peserta sendiri. Karena itu, diharapkan, para utusan akan datang dengan bekal yang memadai untuk bercerita baik isi cerita (apa yang hendak dituturkan) maupun kemasan ceritanya (bagaimana menuturkan kisah itu). Panitia SAGKI telah menyiapkan panduan bagi para peserta yang mudah-mudahan dapat membantu untuk menyampaikan kesaksian hidup mereka secara kreatif dan leluasa dengan menimba inpirasi dari I Yoh 1:3 ‘Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami ceritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami... dan supaya sukacita kami (kita) menjadi sempurna’.

Mengapa menuturkan dan mendengarkan kisah (narasi) ? Pada saat seseorang menutur kisah, ia sebenarnya ‘membongkar’ struktur dirinya kepada orang lain yang mendengarkannya. Lewat tuturan kisah, seseorang mengungkapkan siapa dia, di mana dia berada, dengan siapa dia berelasi. Manusia terdiri dari struktur-stuktur kisah. Kisahnya tidak dapat berdiri sendiri. Ia selalu memiliki kaitan dengan lingkungan di sekelilingnya yang dilihat, disentuh, dirasakan, dan dihayati. Dengan menuturkan kisah, akan tampak bagaimana ia mengalami sesuatu, termasuk pengalamannya dengan Pribadi Yesus yang mungkin sulit dipahami bila didefinisikan secara ilmiah.

Yesus dalam karya pewartaan-Nya, baik di hadapan khalayak ramai maupun secara perorangan, selalu menggunakan kisah dan narasi. Tatkala Ia menjelaskan ‘siapakah sesama’, Yesus tidak memberikan definisi. Yesus malah memulainya dengan menuturkan kisah yang akhirnya kita kenal dengan sebutan Orang Samaria yang Baik Hati (bdk Luk.10: 25-37). Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Ecclesia in Asia yang dipromulgasikan pada tahun 1999, menandaskan bahwa narasi-menuturkan kisah merupakan pedagogi yang paling cocok untuk bangsa-bangsa (EA no 20). Gereja Katolik Indonesia sebagai bagian dari Gereja di Asia dalam pertemuan lima tahunannya menganggap bahwa SAGKI 2010 merupakan suatu momen yang tepat untuk menjadikan metode narasi sebagai sarana berbagi pengalaman iman.

Pribadi Yesus Kristus adalah isi narasi | Yang akan dikisahkan oleh para peserta SAGKI adalah pengalaman imannya tentang Pribadi Yesus dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Konteks masyarakat Indonesia memang sangat variatif dan kompleks. Namun, di antara kompleksitas itu, para uskup menjatuhkan pilihan pada tiga realitas yang dianggap sungguh dominan dan membutuhkan perhatian istimewa dari umat Katolik Indonesia. Ketiga realitas itu adalah kehidupan sosio-budaya, kehidupan sosio-religius, dan kehidupan sosio-ekonomi.

Ketiga kenyataan sosial tersebut akan direfleksikan dan di-sharing-kan dalam tiga hari berturut-turut, di bawah tiga tema, yakni Mengenali Wajah Yesus dalam dialog dengan budaya lain (hari pertama sesi narasi), Mengenali Wajah Yesus dalam dialog dengan Agama dan Kepercayaan lain (hari kedua sesi narasi), dan Mengenali Wajah Yesus dalam Pergumulan Hidup Kaum Marjinal dan Terabaikan (hari ketiga sesi narasi ).

Pengenalan akan Wajah Yesus juga akan tampak dalam seluruh rangkaian acara SAGKI 2010, yakni dalam Ekaristi yang bernuansa inkulturatif, dalam pentas budaya yang diadakan pada setiap akhir acara harian, melalui pendalaman dan pengendapan narasi dan tentunya dalam suasana spontanitas dan kekeluargaan yang tercipta selama SAGKI 2010.

Keterlibatan semua umat Katolik | Betapapun yang akan hadir dalam acara SAGKI di Bogor adalah para utusan dari keuskupan, perayaan ini merupakan peristiwa iman semua umat Katolik Indonesia. Setiap keuskupan akan mengirim enam hingga sepuluh orang sebagai utusan keuskupan pada acara SAGKI.

Dengan demikian, para utusan sungguh-sungguh merepresentasi kekayaan dan keragaman yang ada dalam keuskupannya. Kiranya perayaan iman ini membangkitkan semangat perutusan dalam diri kita sebagai Gereja yang hidup, dinamis, dan selaras zaman.

Agus Alfons Duka SVD (Ketua Panitia SAGKI 2010)