DEVOSI : PengHORMATan kepada Bunda Maria pada dasarnya sudah ada sejak zaman Gereja Perdana. Namun, karena suasana penganiayaan dan perlawanan yang kuat terhadap penyebaran agama Kristen pada masa itu tidak memungkinkan umat Gereja Perdana untuk memberikan pengHORMATan seperti yang kita adakan dewasa ini.

Namun, bagaimanapun juga, pengHORMATan kepada Santa Perawan dan Bunda Maria sudah ada dalam liturgi, bahkan sejak sebelum Konsili Efesus (tahun 421). Kita tahu bahwa para penulis besar dari abad pertama seperti St. Ignatius dari Antiokhia, St. Yustinus Martir, St. Ireneus, dsb telah menulis dan mengakui bahwa Maria adalah Perawan dan Bunda Allah.

Setelah Konsili Nicea (325 CE), tulisan-tulisan tentang Bunda Maria makin berkembang, bukan hanya di Gereja Timur melainkan juga di Gereja Barat. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kontroversi tentang Kristus sebagai Allah yang secara tidak langsung berhubungan dengan Maria sebagai Bunda Allah.

Perkembangan akan CINTA dan DEVOSI kepada Kristus dan Bunda-Nya memberikan Maria tempat yang istimewa dalam liturgi dan hal ini semakin nyata setelah Konsili Efesus. Namun kapan persisnya devosi kepada Maria dimasukkan dalam liturgi Gereja, tidak dapat diketahui dengan pasti.

MENGAPA BULAN MEI DISEBUT BULAN MARIA |  Praktek mendedikasikan bulan Mei kepada Bunda kita dipopulerkan oleh Ensiklik Rosario yang dikeluarkan oleh Paus Leo XII awal 1883 dan diakhiri tahun 1889, dimana Paus menulis 12 ensiklik tentang rosario dan 5 surat apostolik tentang rosario.

Awalnya dimulai dari seoarang Imam Yesuit di Roma, Romo Latomia dari Kolese Serikat Yesuit di Roma, di mana ia bersumpah pada akhir abad 18 untuk menjadikan bulan Mei sebagai "bulan devosi" kepada Bunda Maria untuk menetralkan imoralitas dan rasa kurang percaya terhadap agama (baca : Gereja Katolik) yang dilakukan oleh para muridnya. Pratek tersebut kemudian menyebar ke Koles Yesuit lainnya dan hampir ke setiap Gereja Katolik ritus Latin. Inilah awal mula Mei dijadikan DEVOSI kepada Bunda Maria. (Catholic Encyclopedia, Special Devotions for Months)

Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa bulan Mei merupakan awal musim dimana terjadi "kehidupan baru" dan kesuburan (hal ini terjadi dalam budaya barat klasik). Ada juga tradisi kuno yang menghubungkan bulan Mei yang menandai "kehidupan baru" dengan bulan keibuan (motherhood). Hubungan inilah yang kemudian membuat Gereja mengadopsi bulan Mei sebagai bulan Maria khususnya sebagai bulan Bunda Allah.

Kalau bulan Mei dikenal sebagai bulan Maria, bulan Oktober lebih dikenal sebagai bulan Rosario. Bulan Oktober sebagai bulan Rosario merupakan warisan spiritual dari Paus Leo XIII (1878 – 1903). Paus Leo XIII mendeklarasikan bulan Oktober sebagai bulan Rosario.

Deklarasi bulan Oktober sebagai bulan Rosario sejarahnya bermula dari keputusan Paus Pius V menetapkan tgl. 7 Oktober sebagai pesta Santa Maria Ratu Rosario. Pesta ini ditetapkan Paus Pius V sebagai tanda syukur atas kemenangan pasukan Kristen di bawah pimpinan Don Johanes dari Austria dalam perang melawan pasukan Turki di Lepanto pada tgl. 7 Oktober 1571 berkat doa Rosario yang diserukan Paus Pius V.

Pada tahun 1571 Eropa terancam oleh agresi pasukan Turki. Paus Pius V sebagai pemimpim umat Katolik pada masa itu sangat menyadari bahaya ancaman itu bagi iman umat Katolik di Eropa. Sebagai pemimpin spiritual Paus berkeyakinan bahwa ancaman seperti itu tidak cukup dihadapi hanya dengan kekuatan tangan manusia, tetapi harus juga dengan tangan ilahi. Karena itu Paus Pius V menyerukan umat Katolik di Eropa untuk berdoa Rosario, memohon perlindungan Bunda Maria dari ancaman agresi pasukan Turki.

Paus Pius V sangat yakin akan ampuhnya Rosario sebagai senjata iman untuk mengalahkan musuh. Keyakinan itu telah terbukti dengan kemenangan pasukan Kristen pada tgl. 7 Oktober 1571. Peristiwa sejarah yang sekaligus menjadi peristiwa iman itulah yang mendorong penetapan tgl. 7 Oktober oleh Paus Pius V sebagai pesta St Maria Ratu Rosario.

Mulanya hanya dirayakan di Eropa. Paus Klemens IX (1667 – 1669) merasa perlu untuk mengukuhkan pesta ini bagi seluruh dunia, maka pesta St. Maria Ratu Rosario ditetapkan sebagai pesta yang wajib dirayakan oleh Gereja Katolik sejagat. Paus Leo XIII lebih meningkatkan nilai pesta ini dengan menetapkan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati Bunda Maria.

Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria.

Tanya-Jawab di Katolisitas.org : Penetapan bulan Oktober sebagai Bulan Rosario tidak hanya untuk menghormati Bunda Maria, tetapi juga untuk lebih menyadarkan umat Katolik bahwa Rosario sesungguhnya merupakan senjata iman yang sangat ampuh dalam menghadapi musuh iman. Sesuai dengan nama julukan sebagai bulan Rosario, bulan Oktober pantas diisi dengan doa Rosario. Kebiasaan berdoa Rosario setiap malam sepanjang bulan Oktober dan bulan Mei patut dilestarikan. Namun perlu dicamkan bahwa Bunda Maria tidak boleh menjadi tujuan akhir segala bentuk aktivitas rohani. Per Mariam ad Yesum.

Secara harafiah ungkapan bahasa Latin ini diterjemahkan sebagai berikut: Melalui Maria kepada Yesus. Ungkapan ini kiranya menjadi pedoman dalam penghormatan kita kepada Bunda Maria. Dengan demikian penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak berhenti pada Bunda Maria, tetapi lewat Bunda Maria kita harus sampai kepada Yesus puteranya. Tanpa Yesus Bunda Maria tidak pernah mendapatkan posisi sedemikian dalam kehidupan iman umat. Penghormatan kita kepada Bunda Maria kiranya tidak dipisahkan dari Yesus puteranya.

Kalau kita berpegang pada pedoman tersebut di atas, idealnya harus tercipta keseimbangan dalam aktivitas ROHANI umat yang berkaitan dengan Bunda Maria dan Yesus Puteranya. Konsekuensinya, umat tidak hanya menggandrungi (1) Doa Rosario, tetapi juga aktif dalam (2) Pendalaman Iman dan (3) Kitab Suci.

Di dalam ketiga bentuk kegiatan ROHANI tersebut kita sebetulnya sedang berhadapan dengan Allah dan Yesus Putera-Nya yang sedang berbicara kepada kita melalui Sabda-Nya. Mestinya semakin kita rajin berdoa Rosario, semakin rajin pula kita mengikuti Pendalaman Iman dan Kitab Suci. Itu baru seimbang ... and so on ...

CINTA dan DEVOSI, fb search ► kepada MARIA : Devosi menurut St. Franciskus dari Sales adalah : “Kesigapan dan kegairahan HIDUP ROHANI, yang melaluinya KASIH bekerja di dalam DIRI kita, atau pun kita di dalamnya, dengan CINTA dan keSIAP-SIAGAan; dan seperti halnya KASIH memimpin kita untuk menaati dan memenuhi semua perintah TUHAN, maka DEVOSI memimpin kita untuk menaati semua itu dengan segera dan tekun ….

Maka, DEVOSI tidak hanya membuat kita aktif, bersedia, dan tekun dalam melaksanakan perintah TUHAN, tetapi terlebih lagi devosi mendorong kita untuk melakukan semua perbuatan baik dengan penuh semangat dan KASIH, bahkan perbuatan-perbuatan yang tidak diharuskan, tetapi hanya dianjurkan ataupun disarankan.” (St. Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life, Rockford, Illinois: TAN books and Publishers, 1942, p. 3)

“Di antara semua devosi yang telah disetujui oleh Gereja, tidak ada yang begitu dicintai dengan begitu banyak mujizat sebagaimana devosi Rosario Suci.” (Paus Beato Pius IX) Berikut adalah terjemahan bebas dari sebuah artikel Romo Matthew R. Mauriello yang dimuat ulang di The Mary Page.

Bulan Oktober setiap tahunnya didedikasikan kepada Rosario Tersuci. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa pesta liturgi “Our Lady of Rosario” [terj. Bunda Rosario] dirayakan setiap tahun pada 7 Oktober. Pesta ini diadakan guna menghormati Santa Perawan Maria sebagai bentuk rasa syukur atas perlindungan yang dia berikan kepada Gereja sebagai jawaban dari pendarasan Rosario oleh kaum beriman.

Pesta ini diperkenalkan oleh Paus St. Pius V (1504-1572) pada tahun 1571 untuk memperingati kemenangan ajaib pasukan Kristen di Pertempuran Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571. Paus lebih menghubungkan kemenangan yang ajaib itu pada “senjata” Rosario daripada kekuatan meriam dan keberanian para prajurit yang berperang di sana.

Menurut legenda, Rosario sebagai bentuk doa telah diberikan kepada St. Dominikus (1170-1221) oleh Maria, Bunda Allah kita. Bunda Maria mempercayakan doa itu kepada St. Dominikus sebagai pertolongan dalam konflik dengan bidat Albigensia. Paus St. Pius V, sang Paus Dominikan, kemudian berbuat banyak dalam penyebaran Rosario lebih lanjut. Akibat usaha Paus ini, Rosario menjadi salah satu devosi yang paling populer di dunia kekristenan. Paus yang sama, Paus St. Pius V, pada tahun 1569 menyetujui secara resmi Rosario dalam bentuknya yang sekarang ini melalui Bulla Kepausan, Consueverunt Romani Pontifices. Bentuk Rosario ini sudah lengkap dengan penambahan bagian kedua dari “Salam Maria” dan “Kemuliaan kepada Bapa” pada akhir dari setiap misteri.

Beberapa ahli dewasa ini menelusuri perkembangan Rosario hingga Abad Pertengahan di mana ia bertumbuh di berbagai biara abad pertengahan sebagai pengganti Tugas Ilahi untuk para biarawan awam dan orang-orang awam saleh yang tidak tahu cara membaca. Daripada 150 mazmur, mereka akan berdoa 150 “Bapa kami” yang dihitung pada sebuah cincin manik-manik serupa mahkota atau “korona” [Korona atau corona berasal dari kata crown atau mahkota - red.]. Dengan bertumbuhnya popularitas devosi Maria dalam abad ke-12, “Mazmur Santa Perawan Maria” berkembang yang kini menggantikan 150 “Bapa Kami dengan “Salam Maria”.

Ke-150 “Salam Maria” ini kemudian dibagi lagi menjadi 15 kali sepuluh-an oleh biarawan muda Dominikan, Henry Kalkar (1328-1408), dengan setiap sepuluh-an mengacu pada sebuah peristiwa dalam kehidupan Yesus dan Maria. Dominikan lain, Alanus de Rupe (1428-1478) [dikenal juga sebagai Alan de la Roche - red.] selanjutnya membagi episode-episode dalam sejarah keselamatan itu ke dalam misteri gembira, sedih dan mulia. Dia pula yang menghubungkan asal-usul Rosario, yang kemudian dikenal sebagai “Mazmur Santa Perawan” pada St. Dominikus dan dengan demikian mendorong Ordo Dominikan untuk menjadikan Kerasulan Rosario sebagai perhatian khusus mereka. Sejak saat itu. para Dominikan telah mempromulgasikan Rosario dengan hasil penting.

Praktek pendedikasian seluruh bulan Oktober pada Rosario Suci dikembangkan menjelang akhir abad yang lalu. Paus Leo XIII (masa kepausan: 1878-1903) mempromosikan dengan gencar peningkatan devosi kepada Bunda Maria dengan mendorong penggunaan Rosario terus menerus.

Dimulai pada 1 September 1883, dengan Supremo Apostolatus Officio, Paus menulis total sebelas ensiklik mengenai Rosario, yang berakhir dengan Diuturni Temporis pada tahun 1898. Kita sedang merayakan saat ini seratus tahun dari ensiklik-ensiklik kepausan ini.

Banyak Paus lainnya telah berkontribusi untuk membantu peningkatan devosi kepada Rosario melalui tulisan-tulisan mereka. Dalam masa yang lalu belakangan ini, Paus Paulus VI (masa kepausan: 1963-1978) mengkhususkan bagian terakhir dari Anjuran Apostoliknya yang berjudul MARIALIS CULTUS kepada Angelus dan Rosario (MC 40-55). Dalam dokumen ini, Paus menulis bahwa “Rosario mempertahankan sebuah nilai yang tidak berubah dan kesegaran utuh.” (MC, 41)

Rosario adalah doa alkitabiah yang utama. Hal ini dapat diringkas melalui frase tradisional yang digunakan oleh Paus Pius XII (masa kepausan: 1939-1958) bahwa Rosario adalah “sebuah ringkasan dari keseluruhan Injil” (AAS 38 [1946] hal. 419). Rosario menarik misteri-misterinya dari Perjanjian Baru dan berpusat pada peristiwa-peristiwa besar dari Inkarnasi dan Penebusan.

Paus Beato Yohanes Paulus II menyebut Rosario sebagai doa favoritnya, yang di dalamnya kita bermeditasi dengan Maria atas misteri-misteri di mana dia sebagai seorang ibu merenungkan di dalam hatinya (Luk 2:19) (Osservatore Romano, 44; 30 Oktober 1979).

Dalam bulan Oktober, mari kita mempertimbangkan doa Rosario yang indah ini sebagai sebuah cara yang dapat kita gunakan juga untuk lebih mendekat ke Yesus dan Maria melalui perenungan misteri-misteri besar dari keselamatan kita [...]

Santa Perawan dan Bunda Maria, doakanlah kami [...]

[ sumber ] Cara Merenungkan Misteri-misteri Doa Rosario » [ di sini ]