"September Ceria" ..., sudah lama menjadi tradisi dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, Umat Katolik Indonesia menyelenggarakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tema BKSN 2016 adalah Keluarga Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah.” Keluarga dan Sabda Allah masih menjadi fokus permenungan BKSN 2016. Sebab, kedua hal tersebut merupakan arah dasar kegiatan kerasulan Kitab Suci Nasional 2012-2016. Ini merupakan hasil keputusan Pertemuan Nasional LBI 2012 di Wisma Samadi Klender.

Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang (KAS), setelah membahas tema "Keluarga yang bersekutu dalam Sabda "(2013), "Keluarga beribadah dalam Sabda" (2014), "Keluarga melayani seturut Sabda" (2015), maka pada tahun 2016 Umat Katolik Indonesia KAS diajak untuk merenungkan bagaimana keluarga menjadi saksi dan mewartakan Sabda di tengah Gereja dan masyarakat. Keluarga diajak untuk terlibat dalam bersaksi dan mewartakan Sabda dalam perkataan dan perbuatan. Keluarga tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk gereja dan masyarakat. Ini adalah amanat Tuhan Yesus Kristus. Ia mengajak pengikutnya untuk terus-menerus menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Karena misi inilah, motto BKSN 2016 dikutip dari Injil Matius “Hendaknya Terangmu Bercahaya” (Matius 5:16).

Semoga Roh Kudus memampukan kita untuk melihat BKSN 2016 sebagai salah satu cara Allah dalam membing Gereja-Nya di mana umat semakin » berakar dalam Firman » bertumbuh dalam Kebenaran » berkembang dalam persaudaraan (inklusif) » berbuah dalam pembaharuan (inovatif) dan bersama-sama mewujudkan cita-cita Rencana Induk KAS 2016 – 2035 Peradaban Kasih di Bumi Indonesia melalui tahapan ARDAS KAS (pastoral lima tahunan) bagi kita semua dalam merenungkan, mendalami, belajar dan mengambil inspirasi dari Kitab Suci, Sabda Allah bagi kita.

Gereja berharap supaya apa yang menjadi arah dasar LBI selama 4 tahun terakhir ini bisa terwujud maksimal, yaitu menjadikan keluarga semakin akrab dan mencintai Kitab Suci. Dari situ, keluarga menjadi ujung tombak gereja dalam menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat, dengan berani mewartakan Sabda Allah, dalam perkataan dan perbuatan.

Dari salah satu dokumen apostolik tentang Sabda Allah, dalam ajaran resmi Iman Katolik dan hidup rohani dikenal pula cara berdoa melalui Kitab Suci atau Meditasi Kitab Suci atau kerap dikenal sebagai Lectio Divina. Namun sayang sekali, orang Katolik belum banyak mengenalnya padahal bentuk doa ini merupakan kekayaan Gereja bahkan setua Gereja sendiri yang bersumber dari kekuatan Sabda Allah karena imannya kepada TUHAN Yesus Kristus. Maka, bentuk doa ini amat baik sekali untuk dikenal, dan dihayati sehingga orang dapat membaca, merenungkan, mendoakan dan menghayati Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Teologi suci bertumpu pada Sabda Allah yang tertulis, bersama dengan Tradisi suci, sebagai landasan yang tetap. Disitulah teologi amat sangat diteguhkan dan selalu diremajakan, dengan menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus. Adapun Kitab suci mengemban Sabda Allah, dan karena diilhami memang sungguh-sungguh Sabda Allah. Maka dari itu pelajaran Kitab suci hendaklah bagaikan jiwa Teologi suci. Namun dengan Sabda Alkitab juga pelayanan Sabda, yakni pewartaan pastoral, ketekese dan semua pelajaran kristiani – diantaranya homili liturgis harus sungguh diistimewakan – mendapat bahan yang sehat dan berkembang dengan suci. (Dei Verbum § 24)

Oleh sebab itu semua rohaniwan, terutama para imam Kristus serta lain-lainnya, yang sebagai diakon atau katekis secara sah menunaikan pelayanan sabda, perlu berpegang teguh pada Alkitab dengan membacanya dengan asyik dan mempelajarinya dengan saksama. Maksudnya jangan sampai ada seorang pun diantara mereka yang menjadi “pewarta lahiriah dan hampa sabda Allah, tetapi tidak mendengarkannya sendiri dalam batin.” Padahal ia wajib menyampaikan kepada kaum beriman yang dipercayakan kepadanya kekayaan Sabda Allah yang melimpah, khususnya dalam Liturgi suci. Begitu pula Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan sering kali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp3:8).

“Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus.” Maka hendaklah mereka dengan suka hati menghadapi nas yang suci sendiri, entah melalui liturgi suci yang sarat dengan Sabda-sabda ilahi, entah melalui bacaan yang saleh, entah melalui lembaga-lembaga yang cocok untuk itu serta bantuan-bantuan lain, yang berkat persetujuan dan usaha para Gembala Gereja dewasa ini tersebar dimana-mana dengan amat baik. Namun hendaklah mereka ingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab “kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi.”

Adalah tugas para uskup, “yang mengemban ajaran para Rasul,” untuk membina dengan baik Umat beriman yang dipercayakan kepada mereka, supaya dengan tepat menggunakan kitab-kitab ilahi, terutama Perjanjian Baru dan lebih khusus lagi Injil-Injil, dengan menyediakan terjemahan-terjemahan Kitab suci. Terjemahan-terjemahan itu hendaklah dilengkapi dengan keterangan-keterangan yang diperlukan dan sungguh memadai, supaya putera-puteri Gereja dengan aman dan berguna memakai Kitab suci, dan diresapi dengan semangatnya.

Selain itu hendaknya diusahakan terbitan-terbitan Kitab suci, dibubuhi dengan catatan-catatan yang sesuai, supaya digunakan juga oleh mereka yang bukan kristiani, dan yang cocok dengan keadaan mereka. Hendaknya para Gembala jiwa, serta Umat kristiani dalam keadaan mana pun juga, berusaha untuk dengan pelbagai cara menyebarluaskan terbitan-terbitan itu dengan bijaksana. (KV II, Dei Verbum : Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi § 25)

LECTIO DIVINA

I. PENDAHULUAN | Istilah Lectio Divina berasal dari Origenes. Menurut asal usulnya Lectio Divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, harapan dan kasih. Lectio Divina sudah setua Gereja yang hidup dari Sabda Allah dan tergantung dari padanya seperti air dari sumber (Dei Verbum 7,10,21).

Pada awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan metodis, melainkan tradisi sendiri yang diteruskan dari generasi ke generasi, lewat praktek umat Kristiani. Sistematisasi Lectio Divina dalam empat jenjang baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150 Guigo, seorang rahib, mengajukan teori empat jenjang dalam pembacaan Kitab Suci. Hal ini didapatkannya ketika suatu kali tiba-tiba nampak dalam budinya empat tangga jenjang rohani yaitu: pembacaan, meditasi, doa dan kontemplasi. Ini adalah tangga yang dinaiki para rahib dari bumi ke surga. Jenjangnya hanya sedikit tetapi luar biasa tingginya dengan ujung bawah tegak di atas bumi dan ujung atas menerobos awan-awan mencari rahasia surga. Setiap jenjang ini menghasilkan efek yang khas dalam diri orang yang membaca Kitab Suci.

II. TUJUAN LECTIO DIVINA | Kita mencoba untuk mencapai apa yang dikatakan Kitab Suci: “Sabda sangat dekat padamu, dalam mulutmu dan dalam hatimu, untuk kamu laksanakan” (Ul 30:14). Dalam mulut lewat pembacaan, dalam hati lewat meditasi dan doa, dan pelaksanaannya dalam hidup lewat iman yang dikuatkan oleh kontemplasi.

Tujuan Lecito Divina adalah tujuan Kitab Suci sendiri yaitu : • Memperoleh hikmat yang dapat membawa kepada keselamatan karena iman akan Yesus Kristus (bdk. 2 Tim 3:15). • Mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran dan dengan demikian membimbing umat Allah untuk segala pekerjaan baik (bdk. 2 Tim 3:16-17). • Membantu kita belajar dari kesalahan pendahulu-pendahulu kita agar tidak jatuh dalam kesalahan/dosa yang serupa (bdk. 1 Kor 10:6-10).

III. EMPAT LANGKAH LECTIO DIVINA | Empat jenjang Lectio Divina adalah: pembacaan, meditasi, doa, kontemplasi. Tidak selalu mudah membedakan yang satu dari yang lain. Apa yang dikatakan beberapa orang tentang pembacaan, oleh yang lain dapat dikenakan pada meditasi, dsb. Sikap membaca misalnya dapat berlangsung juga selama meditasi. Keempat sikap itu ada dan berlangsung bersama sepanjang seluruh proses lectio divina, meskipun intensitasnya berbeda sesuai dengan jenjang yang dicapat seseorang.

Langkah Pertama : Pembacaan (Lectio) : Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita terhadap Sabda yang menyelamat­kan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara kepada kita, dan menguatkan kita, sebab maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan (misalnya bacaan Injil hari itu, atau bacaan dari Ibadat Harian), kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan oleh TUHAN kepada kita.

Pembacaan berarti mempelajari Kitab Suci dengan kerajinan dan perhatian besar. Dengan membaca dengan jelas, perlahan-lahan dan lantang kita menempatkan Sabda Allah di mulut kita, seperti menempatkan makanan pada mulut kita. Membaca merupakan titik awal. Langkah ini membuat pembaca berpijak di bumi. Hal ini perlu sebagai persiapan untuk meditasi dan dialog dengan TUHAN, agar meditasi bukanlah hanya buah khayalan belaka namun berdasarkan teks Kitab Suci dan realitas. Membaca dengan penuh perhatian membantu agar teks Kitab Suci tidak dimanipulasi dan disempitkan menurut pendapat dan keinginan kita sendiri. Karena teks mempunyai arti dalam dirinya sendiri tak tergantung pada orang yang membacanya. Dalam hal inilah sumbangan studi Kitab Suci diperlukan untuk membantu Lectio Divina yang baik. Kita perlu mengenal teks dalam rangka konteksnya.

Catatan : Bagi yang mampu, baiklah mengikuti studi Kitab Suci yang membahas aspek literer, historis dan teologis, tetapi dalam hal ini harus waspada terhadap tafsiran yang rasionalistik tanpa iman, yang sering masih dijumpai dalam studi-studi Kitab Suci. Di samping itu perlu disadari, bahwa untuk dapat melakukan lectio divina tidak mutlak harus melakukan studi ilmiah dan kecuali itu hendaknya disadari pula, bahwa semua itu bukan tujuan lectio divina, melainkan hanya sarana dan bantuan untuk mencapai tujuan.

Langkah pertama ini mau menjawab pertanyaan : Apa yang dikatakan teks …?” Membaca teks bagi kita haruslah dengan penuh perhatian dan hormat karena setiap kata berasal dari Allah. TUHANlah yang memberikan sabda itu kepada kita dengan cara yang sangat pribadi. Mengingat-ingat Sabda adalah juga berarti mengingat Allah dan TUHAN kita Yesus Kristus. Membaca teks berulang kali bagi diri sendiri sehingga hati kita terpusat pada Sabda sudah mengarah pada doa batin. Bila ada gagasan atau kalimat atau kata yang menarik perhatian kita, hendaklah berhenti di situ.

Pembacaan harus membuat kita menjadi akrab dengan teks sampai pada titik dimana teks menjadi kata-kata kita sendiri. Kasianus berkata: “Diresapi dengan perasaan yang sama dengan yang meresapi penulisan teks, sehingga seakan-akan kita menjadi penulis-penulisnya”. Saat itulah kita dapat mengetahui bahwa Allah mencoba mengatakan sesuatu kepada kita. Pada saat itu kita menundukkan kepala, menjadi hening dan membuka pendengaran kita: “Aku mau mendengarkan apa yang dikatakan Allah, TUHAN” (Mzm 85:9). Pada saat itulah pembacaan berubah menjadi meditasi dan bergerak menuju langkah kedua yaitu meditasi.

Langkah Kedua : Meditasi (Meditatio) : Meditatio adalah pengulangan dari kata-kata ataupun frasa dari perikop yang kita baca, yang menarik perhatian kita. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah, pada saat kita mengulangi dan merenungkan kata-kata atau frasa tersebut di dalam hati. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.

Jika langkah pertama mau menjawab pertanyaan : Apa yang dikatakan teks …,” maka meditasi mau menjawab pertanyaan : Apa yang dikatakan teks kepada kita saat ini, di sini, di tempat ini …?” Begitu kita sudah menempatkan Sabda Allah ini dalam mulut kita dan mulai mengunyahnya, maka kita sudah mulai bermeditasi berdasarkan teks tersebut.

Meditasi berarti memamah, mengunyah Sabda dan berdiam dengan tenang menikmati setiap potong Sabda untuk menyarikan maknanya. Berdialoglah dengan teks melalui pertanyaan permenungan (reflektif) misalnya : apakah persamaan dan perbedaan situasi yang ada pada teks dan sekarang ? Konflik yang ada dalam teks dan juga menjadi konflik pada situasi sekarang ini ? Apakah pesan teks untuk situasi sekarang ? Perubahan sikap apa yang disarankan teks bagiku ? Hal apa yang menurut teks harus tumbuh dalam diriku ?

Setiap kata dari teks hendaklah ditujukan pada diri sendiri. Penting kita perhatikan bahwa langkah ini adalah proses intuitif, sehingga kita dapat melakukannya seperti sedang membaca surat cinta berulang-ulang. Setiap kata begitu dinikmati dan menjadi bagian dirinya. Seorang yang membaca surat dari kekasihnya bahkan hafal kalimat-kalimat yang tertulis itu. Orang yang bermeditasi merenungkan dan merasakan kebenaran yang tersembunyi dalam Sabda Allah dan menjadikannya sebagai kebijaksanaan dalam hidupnya.

Merenungkan tidak berarti terus-menerus berpikir-pikir tentang teks itu, melainkan lebih meresap-resapkannya dengan mengulang-ulang teks tersebut, sampai artinya meresap ke dalam hati kita. Bermeditasi ini pada hakikatnya mendengarkan kata-kata yang dibaca secara berulang-ulang untuk menemukan makna yang terkandung dalam Sabda tersebut. Sulit menentukan dengan tegas pada saat mana orang beralih dari meditasi ke doa sebagaimana kita sulit mengatakan dengan tepat bilamana orang beralih dari masa remaja ke masa dewasa. Namun ada patokan yang dapat digunakan.

Meditasi membuat makna teks itu terbuka bagi kita dan relevan dengan situasi sekarang dan memberi gambaran akan apa yang diminta Allah dari kita. Bila kita mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang diminta Allah, tibalah saatnya kita bertanya : Sekarang apa yang hendak kukatakan kepada Allah ? Apakah aku menerima atau tidak ? Bila yang diminta Allah pada kita menjadi jelas, maka menjadi jelas juga segala keterbatasan, hambatan dan ketidakmampuan kita. Pada saat itu dapatlah kita memohon kepada-Nya : “TUHAN, bangkitlah, bantulah kami” (Mzm 44:27).

Dengan kata lain, meditasi ini adalah benih doa. Santa Teresia Avila menambahkan unsur penting untuk membantu bermeditasi yaitu: menempatkan diri kita di dalam hadirat TUHAN. Santa Teresia mengajar kita untuk menyadari kehadiran TUHAN yang amat dekat pada kita.

Langkah Ketiga: Berdoa (Oratio) : Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan TUHAN. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, TUHAN berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada TUHAN.”

Maka dalam lectio divina ini, kita mengalami komunikasi dua arah, sebab kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan kemudian kita menanggapinya, baik dengan ungkapan syukur, jika kita menemukan pertolongan dan peneguhan; pertobatan, jika kita menemukan teguran; ataupun pujian kepada TUHAN, jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.

Dalam membaca kita bertanya: “Apa yang dikatakan teks …?” Dalam meditasi kita bertanya : “Apa yang dikatakan teks kepadaku …?” Sedangkan dalam berdoa kita bertanya:  “Aku diajak teks mengatakan apa kepada Allah …?”

Dalam langkah ketiga ini kita memberi tanggapan dan mengungkapkan di hadirat Allah, apa yang dibangkitkan dalam diri kita oleh Sabda yang telah kita renungkan. Berdoa adalah tanggapan yang muncul dari hati kita atas Sabda TUHAN. Doa ini dapat berupa permohonan, pujian, syukur atau penyesalan.

Kita dapat mengungkapkan doa kita dalam suatu percakapan dengan Yesus atau Bapa, boleh juga kadang-kadang dengan Roh Kudus, secara spontan, seperti seorang sahabat yang berbicara dengan sahabatnya yang mengasihi dia, seperti yang diungkapkan Santa Teresa Avila. Percakapan ini hendaknya spontan, sederhana, wajar, tanpa dibuat-buat. Supaya tidak menjadi monolog, doa ini harus bermuara dalam kontemplasi.

Langkah Keempat: Kontemplasi (Contemplatio) : Saat kita dengan setia melakukan tahapan-tahapan ini, akan ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah, di mana kita berada dalam hadirat Allah yang memang selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia dari TUHAN. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai  doa persatuan dengan Allah/ prayer of union di mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak kita kepada kehendak-Nya.”

Ke-empat langkah (tahapan, fase) di atas membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dan contemplatio sebagai persatuan. Bila pembacaan Sabda berulang-ulang meletakkan Sabda pada bibir kita, meditasi menempatkan Sabda dalam pikiran kita, berdoa menempatkan Sabda pada hati kita, maka dengan bantuan rahmat TUHAN, kontemplasi mengukirkan Sabda pada roh kita.

Kontemplasi berasal dari kata latin “contemplari”, yang berarti memandang. Doa kita berubah dari suatu percakapan menjadi suatu pandangan kasih dalam iman, dalam keheningan, tanpa kata-kata, tanpa gagasan. Bila pada awalnya saat-saat kontemplasi ini hanya singkat saja, lama kelamaan, bila kita setia, saat-saat itu dapat menjadi lebih panjang dan bila TUHAN berkenan, orang bahkan ditarik ke dalam keheningan yang besar dan keterserapan dalam Allah.

Dalam keheningan dan kedamaian inilah Allah mencurahkan kasih dan kebijaksanaan-Nya. Walaupun demikian janganlah memaksa tinggal dalam keheningan itu bila tidak ditarik dari dalam, sebab kalau demikian keheningan itu menjadi kekosongan yang steril. Sebaliknya bila orang ditarik ke dalam keheningan dari dalam, janganlah takut, sebab itu sungguh suatu rahmat yang besar. Kita bisa tetap diam tenang pada inti terdalam jiwa, menunggu, memandang dan merasakan kehadiranNya yang melampaui kata-kata.

Kita berjumpa dengan Sang Sabda sendiri. Kita diangkat untuk mengenal Dia yang sudah lebih dulu mengenal kita sedalam-dalamnya. Kita diangkat untuk mencintai dan dicintai dalam kekuatan Roh yang berdoa di dalam diri kita. Dengan memasuki suatu cahaya yang baru kita mengalami transformasi. Kita telah sampai pada sumber air hidup dan diberi minum secara cuma-cuma dari Sang Penyelamat kita. Bila kita mulai keluar lagi dari keheningan, artinya tidak terpusat lagi, kita dapat mulai lagi proses dari awal, dari langkah I dan seterusnya, atau dapat juga sekedar mengulang-ulangi nama Yesus.

Caranya Memulai Lectio Divina : Karena maksud dari lectio divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita, dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah lectio divina adalah sebagai berikut :

  1. Ambillah sikap doa, bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran TUHAN di dalam hati kita. Mohonlah agar TUHAN sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu.
  2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop itu dengan pengertian yang benar.
  3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.
  4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”
  5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.

IV. PENUTUP : Dalam melakukan Lectio Divina kita perlu kedisiplinan, ketenangan hati dan tentunya rahmat TUHAN sendiri. Hal terpenting bukanlah banyak berpikir tentang Sabda melainkan banyak mencinta sebagaimana diucapkan Teresa Avila. Semoga melalui Lectio Divina kita semakin mengalami persatuan dengan TUHAN.

Buah-buah dari persatuan kita dengan TUHAN melalui Sabda-Nya, maka kita terdorong membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan TUHAN yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan Martha (lih. Luk 10:38-42).

Mari, memulai perjalanan iman dengan Lectio divina : Jika kita membaca pengalaman para orang kudus, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka menerapkan lectio divina dalam kehidupan rohani mereka. Diakui bahwa perjalanan menuju contemplatio bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan disiplin dan kesetiaan kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa. Namun demikian, sesungguhnya setiap orang dapat mulai menerapkan lectio divina ini dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang keliru jika berpikir bahwa membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tingkat pendidikan yang tinggi tentang Alkitab. Kenyataannya, sebagian besar perikop Kitab Suci tidak sulit di-interpretasikan. Bahkan perikop yang mengandung ayat yang sulit sekalipun, akan tetap berguna untuk direnungkan. Maka sesungguhnya, tidak ada alasan bagi kita untuk malas membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kita dapat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk berdoa dan untuk menjadi penuntun sikap kita sehari-hari.

KITAB SUCI SEBAGAI “KITAB KEHIDUPAN” : Santo Gregorius Agung, pada suatu hari menulis kepada sahabatnya Teodorus, seorang mantri di lingkungan Kerajaan Romawi :

“Saya mendengar berita bahwa anda sedang melakukan banyak hal yang sangat indah dan penting; tetapi sayang sekali, saya juga mendengar bahwa anda tidak memiliki kesempatan untuk membaca Kitab Suci. Dengar baik-baik sahabatku: sekiranya kaisar menulis sebuah surat untukmu, apakah anda akan cepat-cepat membuang surat itu ke tempat sampah ? Tentu saja tidak. Baiklah, sekiranya TUHAN sendiri menulis kepada kita surat cinta untuk keselamatan kita …. Belajarlah untuk mengenal hati Allah dari Sabda-Nya, untuk bernafas dengan lega menuju keabadian.”

Tulisan Santo Gregorius tersebut masih relevan (berlaku) bagi kita saat ini. Kita perlu belajar untuk mengenal hati Allah melalui sabda-Nya. Sabda TUHAN membantu setiap pribadi untuk bertemu dan mengalami Allah. Kitab Suci, Kitab yang dikarang oleh Allah yang benar yang kita imani. Kitab suci mengikat kita untuk memiliki pengalaman iman dan pengalaman doa.

Di dalam Kitab Suci kita menemukan peristiwa penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Bagi komunitas basis (pribadi, keluarga, lingkunag) sebagai ujung tombak Gereja, Kitab suci bukan hanya menjadi sebuah istilah saja yang muncul, tempat untuk mengenal Yesus, bertumbuh dalam iman, tetapi lebih dari itu.

Kitab Suci merupakan sarana untuk bersatu dengan Allah, sebagai teks doa dan meditasi : “Sumber yang murni dan kekal bagi hidup rohani.” Kitab Suci bukanlah sebuah teks yang memuat sebuah ideologi tetapi memuat pesan dari Allah bagi manusia untuk dapat bersatu denganNya. Tujuannya adalah mengenyangkan umat beriman untuk berdialog dengan Allah secara terus menerus.

Bacaan Kitab Suci akan semakin subur kalau sekiranya ada keterbukaan dari umat beriman untuk hidup bersama Allah. Sabda Allah dikaitkan secara erat dengan Kristus. Tentang hal ini Santo Ambrosius menulis : “Ketika membaca teks-teks suci, kita mendengar TUHAN yang sedang berbicara dengan kita,” karena isi dari Kitab Suci adalah Allah sendiri atau manusia tetapi selalu dalam hubungan dengan Allah.

Sabda TUHAN itu sama dengan benih yang jatuh ke tanah yang subur. Dari dirinya sendiri, benih itu memiliki kehidupan yang nantinya berkembang sebagai pohon. Demikian Kitab Suci juga menjadi pohon Allah. Ia dapat dibaca dengan iman dalam terang Roh Kudus. Terkadang ada kedangkalan dalam bersahabat dengan Kitab Suci. Mungkin kita lebih mendekatkan diri secara intelektual semata dan melepaskan nilai rohani dari Kitab Suci.

Membaca atau menghafalkan ayat-ayat Kitab Suci adalah sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik jika kita meresapkannya dan membiarkan hidup kita terus menerus diubah olehnya. Tentu, ke arah yang lebih baik, agar kita semakin dapat mengikuti teladan Kristus TUHAN kita.

Pengalaman membuktikan bahwa tidak cukup mendengar bacaan Kitab Suci dan langsung mencari dan menemukan buah rohaninya. Perlu persahabatan mendalam, merasa familiar dengan Kitab Suci sehingga buah-buah rohaninya bisa muncul. Allah bebicara kepada umat-Nya secara pribadi maupun secara bersama-sama dalam komunitas. Sabda-Nya memberi kehidupan bagi kita. [ more : CARMELIA dot net ]